Tampilkan postingan dengan label india. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label india. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Desember 2013
Wartawan India Dikecam kerana Melaporkan Berita Sambil Digendong Mangsa Banjir
Rabu, 26 Jun 2013
Foto ini diambil dari video yang diunggah ke YouTube menampilkan ketika seorang wartawan televisyen India digendong seorang mangsa banjir ketia t melaporkan berita untuk stesyen televisyen tempatnya bekerja. | YouTube/Sydney Morning Herald
NEW DELHI, KOMPAS.com - Seorang wartawan televisyen India mempertahankan keputusannya melaporkan banjir dahsyat di wilayah utara negeri itu sambil digendong seorang mangsa banjir.
Narayan Pargaeien, yang bekerja untuk stesyen televisyen lokal News Express, kepada web berita India, newslaundry.com mengatakan, semua kritik yang diarahkan kepadanya akibat insiden itu tidak adil.
"Orang mengatakan bahawa kami tidak berperi kemanusiaan dan salah. Namun kenyataannya kamu justru menolong sejumlah orang di sana," kata Narayan.
Narayan mengatakan bahawa laki-laki yang menggendongnya itu memintanya naik ke pundaknya sebagai satu bentuk penghormatan.
Di televisyen jelas terlihat tubuh laki-laki itu bergoyang-goyang kerana menahan beban di pundaknya sambil berdiri di genangan air yang cukup dalam.
"Lelaki itu ingin melakukan sesuatu untuk menghormati saya kera na itu kali pertama seseorang sekelas saya datang ke kediamannya," kata Narayan.
"Jadi, sambil menyeberangi sungai dia menawarkan untuk menggendong saya, ketika saya melaporkan berita," lanjut Narayan.
Narayan juga menyalahkan sang cameraman kerana mengambil seluruh gambar yang menunjukkan dia duduk di atas pundak mangsa banjir. Narayan juga menuduh si cameraman mengunggah video itu ke internet.
"Saya seharusnya hanya dirakam dari dada ke atas. Ini sepenuhnya salah cameraman, yang ingin merosak karier saya dengan mengambil gambar dari kejauhan dan kemudian merilis video itu," tuduh Narayan.
"Saya juga salah. Itu adalah satu kesalahan yang saya buat dan waktu yang salah untuk mengambil gambar," tambah dia.
Setelah video itu diunggah ke YouTube sejak Sabtu (22/6/2013), video ini sudah ditonton hampir 12,000 orang.
Narayan Pargaeien, yang bekerja untuk stesyen televisyen lokal News Express, kepada web berita India, newslaundry.com mengatakan, semua kritik yang diarahkan kepadanya akibat insiden itu tidak adil.
"Orang mengatakan bahawa kami tidak berperi kemanusiaan dan salah. Namun kenyataannya kamu justru menolong sejumlah orang di sana," kata Narayan.
Narayan mengatakan bahawa laki-laki yang menggendongnya itu memintanya naik ke pundaknya sebagai satu bentuk penghormatan.
Di televisyen jelas terlihat tubuh laki-laki itu bergoyang-goyang kerana menahan beban di pundaknya sambil berdiri di genangan air yang cukup dalam.
"Lelaki itu ingin melakukan sesuatu untuk menghormati saya kera na itu kali pertama seseorang sekelas saya datang ke kediamannya," kata Narayan.
"Jadi, sambil menyeberangi sungai dia menawarkan untuk menggendong saya, ketika saya melaporkan berita," lanjut Narayan.
Narayan juga menyalahkan sang cameraman kerana mengambil seluruh gambar yang menunjukkan dia duduk di atas pundak mangsa banjir. Narayan juga menuduh si cameraman mengunggah video itu ke internet.
"Saya seharusnya hanya dirakam dari dada ke atas. Ini sepenuhnya salah cameraman, yang ingin merosak karier saya dengan mengambil gambar dari kejauhan dan kemudian merilis video itu," tuduh Narayan.
"Saya juga salah. Itu adalah satu kesalahan yang saya buat dan waktu yang salah untuk mengambil gambar," tambah dia.
Setelah video itu diunggah ke YouTube sejak Sabtu (22/6/2013), video ini sudah ditonton hampir 12,000 orang.
Sumber : AFP
Editor : Ervan Hardoko
Selasa, 03 Desember 2013
Kekurangan Wanita Istri Dibagi di India
Hal ini terjadi di wilayah utara India, tepatnya di distrik Baghpat, hanya sekitar dua jam dari kota metropolitan New Delhi. Adalah Munni, wanita pertengahan 40an yang mengisahkan penderitaannya menjadi seorang istri dari suami sekaligus pemuas nafsu adik-adik suaminya.
"Suamiku dan orangtuanya bilang, saya harus membagi diri saya dengan adik-adiknya," kata Munni, dikutip dari Daily Mail, Sabtu 29 Oktober 2011.
Dua adik suaminya adalah bujangan lapuk yang tidak memiliki istri. Antara lain disebabkan tidak mencukupinya jumlah wanita di desa tersebut. Munni saat ini memiliki tiga orang anak, hasil hubungannya dengan suami, dan dua adiknya.
"Mereka menggagahi saya kapanpun mereka mau, siang atau malam. Jika saya menolak, mereka memukuli saya dengan apa saja. Kadang mereka mengusir saya untuk tidur di luar, saya juga pernah disiram minyak tanah dan dibakar," kisah Munni yang akhirnya berhasil kabur.
Munni hanyalah satu dari puluhan wanita di Baghpat yang mengalami hal yang sama. Kasus-kasus penyiksaan dan penyimpangan ini kebanyakan tidak dilaporkan ke polisi. Wanita-wanita ini jarang dapat keluar rumah sendirian, sehingga sulit untuk kontak dengan dunia luar.
Warga desa mengatakan praktek berbagi istri ini memiliki banyak keuntungan. Salah satunya adalah menghindari perpecahan akibat berebut lahan dan aset di antara para pewaris keluarga. Selain itu, praktek ini juga membebaskan wanita miskin dengan menikahinya, mendapatkan nafkah dari banyak lelaki.
Bhagyashri Dengle, direktur eksekutif Childrens Charity Plan India, mengatkaan praktek ini terjadi akibat menurunnya jumlah wanita dibandingkan lelaki. Kebanyakan warga di India mengaborsi bayi wanita karena dianggap tidak berguna di masa depan.
"Kita harus melakukan sesuai jika tidak situasi akan memburuk. Wanita di India akan semakin beresiko diculik, diperkosa atau jauh lebih buruk lagi," kata Dengle.
Menurut sensus India tahun 2011, saat ini hanya terdapat 858 wanita untuk 1.000 orang lelaki di Baghpat. Jumlah wanita terus menurun. Hal ini juga terjadi di distrik Haryana, Punjab, Rajashtan dan Gujarat.
"Di setiap desa, terdapat lima atau enam bujangan yang tidak dapat menemukan istri. Dalam satu keluarga, terdapat tiga atau empat lelaki yang belum menikah," kata Dengle lagi.
Salah satu cara untuk mengatasinya adalah membeli pengantin dari distrik lain seharga 15.000 rupee atau sekitar Rp2,7 juta. Namun, inipun hanya membawa penderitaan kepada kaum wanita, karena kebanyakan harus menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua.
Jumat, 22 November 2013
Langganan:
Postingan (Atom)


